Tag: Perjalanan Srihadi Soedarsono Berkarya

Perjalanan Srihadi Soedarsono Berkarya

Perjalanan Srihadi Soedarsono Berkarya – Maestro seni lukis Indonesia Srihadi Soedarsono berkarya seperti tak mengenal batas waktu. Di usianya yang makin uzur, tangannya tidak berhenti menggores cat pada tubuh kanvasnya. Berbagai karya terus mengalir dari pengalaman kontemplasinya terhadap realitas yang ada.

Beberapa waktu lalu, ia memberikan sebuah lukisan berukuran 2×1,7 meter kepada Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka, Jakarta. Karya itu merupakan pengembangan ide lukisan dari goresan huruf S berwarna merah yang dibuat Jokowi sebelumnya.

Pada kuarter pertama 2020, pelukis legendaris Indonesia ini akan menggelar pameran tunggalnya di Jakarta. Pameran ini bertajuk “Srihadi Soedarsono-Man x Universe” bertempat di Galeri Nasional Jakarta, 11 Maret-9 April 2020.

Tema universe (artinya: semesta) dipilih sebagai pantulan refleksi seniman kelahiran Solo, 4 Desember 1931 itu atas catatan-catatan tentang ingatan-ingatannya yang dituangkan lewat kanvas. idn slot online

Karena itulah, banyak orang menyebut karyanya sebagai catatan sejarah. Ia tidak hanya berperan sebagai seorang pelukis, tapi sekaligus jurnalis yang dengan telaten merekam setiap peristiwa sejarah manusia dalam kanvasnya.

Sekiranya ada 44 karya yang akan ditampilkan dalam pameran ini, dengan 38 di antaranya merupakan karya terbarunya selama periode 2016-2019.

Kembali ke Galnas Jakarta mengingatkan kembali memori publik akan pameran karyanya tigabelas tahun lalu, ketika ia menampilkan 400 karya sketsa, drawing, dan cat air di atas media kertas dari kurun waktu berkaryanya selama 1946-2007.

Perjalanan Srihadi Soedarsono Berkarya

Belum lama ini, Srihadi juga memamerkan karya-karyanya berupa sketsa-sketsa, beberapa lukisan dengan medium cat minyak, serta lelang lukisan untuk amal di Galeri Nasional Jakarta, medio Februari 2016.

Selain pameran, momentum ini dipakai Srihadi untuk meluncurkan buku dengan judul yang sama dengan tema pameran. Buku ditulis oleh Siti Farida Srihadi dan penulis Prancis Jean Couteau.

Menggaris batas waktu 1946 sebagai tahun memulai karya, maka Srihadi sudah melewati sekitar 74 tahun berkarya dalam dunia seni lukis Indonesia.

Kritik Sosial

Dalam media gathering di JJ Royal Brasserie, Jakarta, Rabu (26/2), Srihadi tampak berusaha menarik batas yang jelas antara proses kreatif dan politik.

Meski catatan yang dituangkan lewat kanvas dalam pameran ini sarat kritik sosial, ia tidak mau terlalu vulgar berbicara tentang politik dalam karya-karyanya itu.

“Tidak ada perubahan dalam diri saya. Soal politik itu tidak mempengaruhi saya, baik semasa Soekarno maupun Jokowi. Kondisi lingkungan yang membuat saya terus berkarya,” katanya, melansir liputan6.com.

Kurator pameran Rikrik Kusmara mengungkapkan, karya-karya Srihadi dalam pameran ini merupakan pendekatan baru sang pelukis dalam mengekspresikan realitas, sebab menampilkan metafor dan simbol yang cukup kompleks.

Idiom-idiom itu ditangkapnya selama pergolakan sosial politik di Indonesia sepanjang 2016-2019, di mana terjadi banyak peristiwa penting yang patut direkam, tidak saja lewat medium jurnalistik, tapi juga lukisan.

Rikrik kemudian mengelompokkan puluhan karya Srihadi ke dalam empat rumpun besar, yaitu kritik sosial, dinamik, manusia dan alam, dan kontemplasi.

“Hampir tiga tahun menghasilkan 38 karya baru, tentu ada makna sesuatu di balik-karya itu. Melalui pameran ini pun pengetahun masyarakat luas terhadap karya Srihadi Soedarsono yang masih aktif berkarya akan bertambah,” katanya.

Sementara itu, Jean Couteau menilai, garis lukisan Srihadi terlihat sederhana, tapi memiliki makna yang tidak sederhana dan kompleks. Karena itu, publik perlu memiliki kecerdasan visual untuk menyerap pesan-pesan yang disampaikan.

Memang, pada dasarnya karya-karya Srihadi memiliki proses yang panjang. Mula-mula karyanya sangat dipengaruhi hasil pendidikan, yaitu geometris sintetik.

Namun kemudian sekitar tahun 1960-an ia mulai menuju eksperimentasi pada bentuk abstrak lewat tempelan potongan kertas dan spontanitas warna.

Memasuki 1970-an cenderung impresionis lewat cat air dan ekpresionis lewat cat miyak dan sering memasukkan unsur simbolis dalam lukisannya.

Pada masa-masa akhir ini, karyanya muncul dalam bentuk simplifikasi dengan garis horison yang kuat, selain juga lukisan figur-figur puitis yang terinspirasi ajaran Zen.

Arsip Sejarah

Srihadi menggunakan ragam medium untuk menuangkan buah pikirnya. Tidak hanya kanvas, tapi juga kerta-kertas yang digunakannya untuk melukis sketsa.

Sebagai pelukis murni, kanvas-kanvas Srihadi tidak sekedar menempelkan bayangan imajinasi yang berkelindan di pemikirannya ke dalam kanvas.

Lebih dari itu, Srihadi adalah wartawan pelukis karena di dalam karya-karyanya ia memuat arsip sejarah yang bercerita tentang perjalanan bangsa Indonesia lewat bahasa visual.

Bagi Srihadi, sketsa menuntut kecepatan respon terhadap realita yang terjadi pada saat melukis. Sementara drawing merupakan tahap lanjut dari sketsa dengan menambahkan lebih banyak unsur termasuk warna dan komposisi.

Merujuk pada empat pilar peradaban, yaitu filsafat, agama, sains, dan seni, maka Srihadi adalah seorang pelukis yang bukan sekadar berkarya, tapi secara intelektual mengolah narasi sejarah yang tercecer untuk dipadukan menjadi arsip yang penting.

Lewat karya-karyanya publik dapat mengenal pelbagai peristiwa di masalalu dengan masing-masing tekanan dan fragmentasi sosial dan politik yang terjadi.

Selama masa pergolakan di awal kemerdekaan, misalnya, Srihadi yang turut serta dalam perang gerilya tahun 1947, menggambarkan situasi perang dalam lukisanya berjudul “Reruntuhan Kapal VT-CLA” (1947).

Tidak hanya tema perjuangan atau kehidupan manusia modern yang terlukis dalam kanvasnya, Srihadi juga mengusung tema alam dan cinta dalam karyanya.

Bermula dari kedalaman pikirannya, Srihadi dalam lukisannya senantiasa mengaitkan hubungan transendental antara manusia dengan kejiwaannya.

Biografi Hidup

Perjalanan Srihadi Soedarsono Berkarya

Srihadi adalah salah satu maestro kebanggaan Indonesia, lahir di kota Budaya Surakarta, pada 4 Desember 1931. Karyanya banyak diburu kolektor asing.

Maestro bernama lengkap Prof. KRHT H. Srihadi Soedarsono Adhikoesoemo, ini pernah diangkat menjadi anggota Tentara Pelajar pada rentang tahun 1945-1948.

Karier militernya berakhir ketika terjadi rasionalisasi dengan pangkat sersan mayor dan bersekolah lagi di SMA II Surakarta.

Periode 1947-1952, ia bergabung dalam Seniman Indonesia Muda di Solo dan Yogyakarta. Menjadi anggota aktif dalam pembentukan Himpunan Budaya Surakarta di Solo tahun 1950, dan juga aktif mengikuti pameran seni rupa di Solo dan Yogyakarta.

Pada 1952 Srihadi memasuki pendidikan seni di Balai Pendidikan Universiter Guru Gambar Fakultas Teknik Universitas Indonesia Bandung (sekarang Fakultas Seni Rupa Institut Teknologi Bandung).

Tiga tahun kemudian, ia turut andil menciptakan logo Keluarga Mahasiswa Seni Rupa (KMSR). Logo tersebut berbentuk palette dengan kata-kata “Seni Rupa Bandung” dengan lambang Universitas Indonesia. Setelah Maret 1959, bentuk Ganesha menggantikan logo UI pada palette tersebut.

Setelah lulus sarjana seni rupa dan diwisuda pada 1959, ia mendapatkan beasiswa dari ICA untuk belajar di Amerika Serikat pada 1960.

Di sana ia melanjutkan kuliah di Ohio State University hingga mendapat gelar Master of Art (MA) pada 1962.

Dari pernikahannya dengan Siti Farida Nawawi, ia dikaruniai tiga orang anak. Mereka adalah Tara Farina, Rati Farini, dan Tri Krisnamurti Syailendra.

Mei 1969 Srihadi diangkat menjadi PNS dan menjadi guru besar Seni Rupa pada 1992. Ia menjadi pengajar pada dua perguruan tinggi, yaitu Institut Teknologi Bandung dan Institut Kesenian Jakarta. Tahun 2007, masa jabatannya sebagai PNS berakhir.

Sebagai pelukis yang berdedikasi, ia mendapatkan beberapa penghargaan, antara lain: Anugerah Seni dari Pemerintah Indonesia pada 1971, Cultural Award dari Pemerintah Australia tahun 1973, Fulbright Grant dari Pemerintah AS pada 1980, dan Hadiah Terbaik di ajang Bienalle III Seni Lukis Indonesia.

Adapun karya-karyanya, antara lain: “17|71: Goresan Juang Kemerdekaan” Installation View #1 (2016), Ancient Pagan, Journey of the Soul (2012), Angkor Wat, Journey of the Soul (2012), Bali Beach (Seascape in Bali) (1981), Baris, the Warior-the Energy of Love And Peace (2012), Bedaya-Fight for Freedom, Love and Peace (2012), Farida and Tara (2012), Installation View (2012), serta masih banyak lagi.